5 Beda Saham dan Reksadana, Ketahui Sebelum Memilih

beda saham dan reksadana

Melakukan investasi merupakan salah satu hal yang dilakukan kebanyakan orang saat ini untuk memperoleh pendapatan tetap sampingan.

Salah satunya melalui instrumen investasi obligasi, deposito, sukuk, pasar uang, saham, maupun reksadana.

Nah, yang menarik masih banyak orang sering kali merasa bingung mengenai beda saham dan reksadana.

Karena sekilas keduanya memiliki persamaan yang cukup dominan baik dalam hal adanya indeks maupun aktivitas trading.

Tentu nantinya jenis dan pilihan investasi yang dilakukan disesuikan dengan kemampuan dana maupun preferensi masing-masing.

Entah berinvetasi pada satu hal ataupun memilih investasi campuran dari berbagai macam instrumen di atas.

Namun melihat tingginya respon masyarakat terhadap investasi dalam bentuk saham serta reksadana, tentu sangat penting mempelajari perbedaan mendasar keduanya.

Supaya jangan sampai salah memastikan mana bentuk investasi yang ingin dipilih.

Dengan mempertimbangkan bentuk investasi secara bijaksana, tentu saja perolehan hasil yang didapatkan akan lebih optimal.

Maka dari itu sebaiknya sisihkan sedikit waktu untuk membaca dengan tuntas informasi yang akan diberikan di bawah ini.

Dimana dengan informasi berikut Anda dapat melihat secara detil dimana letak mendasar perbedaan antara kedua bentuk investasi tersebut.

Lebih lanjut, berikut ini 5 lima perbedaan penting antara investasi saham ataupun reksadana yang perlu Anda pahami.

Beda Saham Dan Reksadana Dalam Hal Bentuk Investasi

Salah satu bentuk perbedaan yang paling mendasar tentang kedua instrumen investasi tersebut yaitu terletak pada bentuk investasinya sendiri.

Reksadana merupakan sekumpulan produk investasi dengan manajer investasi sebagai pengelolanya.

Sehingga hal ini membuat reksadana dapat berupa kumpulan investasi obligasi, deposito, saham, maupun surat hutang.

Hal ini berbeda dengan bentuk investasi berupa saham karena pada dasarnya saham adalah bagian kepemilikan pada sebuah perusahaan.

Dengan kata lain memiliki saham artinya memiliki bagian dari perusahaan tertentu.

Dimana nantinya keuntungan investasi yang diperoleh berupa dividen yang dibayarkan dalam bentuk per tahun maupun per kuartal.

Tidak sampai disini saja, namun saham dapat dijual kembali melalui aktivitas trading di pasar saham.

Dari hasil penjualan, jika terdapat margin maka Anda dapat memperoleh keuntungan dari harga jual tersebut.

Sehingga disini investasi yang dilakukan memberikan keuntungan berupa selisih harga dari harga beli dan harga jual saham tersebut.

Dengan penjelasan di atas, maka cukup jelas bahwa bentuk investasi saham dan reksadana jelas berbeda.

Saham hanya berupa satu instrumen, namun reksadana dapat berupa beberapa instrumen.

Yang mana saham sendiri pada akhirnya bisa menjadi salah satu komposisi instrumen yang termasuk pada investasi reksadana.

Baca juga: 9 Investasi Terbaik untuk PNS Minim Risiko, Mau Coba?

Keberadaan Pihak Perantara Yang Berperan

Selanjutnya beda saham dan reksadana dapat dilihat dari adanya pihak perantara yang melaksanakan investasi tersebut.

Sebenarnya baik saham ataupun reksadana keduanya membutuhkan perantara dalam melaksanakannya.

Jika memilih investasi saham maka membutuhkan perantaraan broker, sedangkan dalam investasi reksadana dibutuhkan perantara melalui manajer investasi.

Tentunya kedua jenis perantara ini memiliki peranan yang hampir sama.

Broker akan menjadi perantara dalam jual beli saham yang dilakukan di pasar saham melalui aktivitas trading.

Sementara manajer investasi reksadana akan membantu mengelola seluruh instrumen investasi reksadana yang dipilih.

Baik yang dalam bentuk obligasi, saham, dan lain sebagainya.

Meskipun sama-sama memiliki perantara, namun dalam hal ini broker hanya menjalankan perdagangan saja.

Keputusan jual beli saham murni terletak pada tangan investor.

Berbeda pada manajer investasi pada reksadana yang akan memberikan masukan pada investor dan memilihkan instumen terbaik untuk dijalankan.

Sehingga dalam hal ini manajer investasi lebih banyak berperan pada pengelolaan bentuk instrumen pada reksadana yang paling menguntungkan.

Jangka Waktu Investasi

Selanjutnya yaitu perbedaan dalam bentuk jangka waktu investasi.

Jika memilih investasi dalam bentuk saham, maka target dalam investasi tersebut yaitu dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Umumnya target yang disarankan yaitu sekitar lebih dari 10 tahun baru dapat memberikan perolehan yang optimal.

Meskipun sebenarnya investasi saham juga membebaskan investor memilih strategi yang diinginkan.

Termasuk jika pada akhirnya ingin memilih jangka waktu yang pendek saja.

Sementara reksadana memiliki jangka waktu investasi yang berbeda-beda.

Tergantung pada pilihan instumen yang dimasukkan di dalam reksadana.

Sebagai contoh jika memilih instrument pasar uang atau obligasi, maka umumnya lebih cocok untuk diinvestasikan pada jangka pendek kurang dari 2 tahun.

Namun jika memilih komponen saham maka tentu disarankan memilih bentuk investasi yang jangka panjang atau lebih dari 7 tahun.

Baca juga: 8 Cara Mengelola Gaji 1 Juta Untuk Tetap Survive

Tingkat Perolehan Return

Antara saham dan reksadana tentu juga memberikan hasil perolehan investasi yang berbeda.

Dalam saham nantinya investor dapat memperoleh dua jenis keuntungan.

Yang pertama yaitu dari dividen yang dibagikan secara berkala, dan yang kedua yaitu keuntungan dari margin hasil penjualan.

Sehingga memilih investasi saham dapat memberikan lebih banyak jenis keuntungan yang diperoleh.

Berbeda lagi jika memilih bentuk invetasi berupa reksadana.

Dimana keuntungan yang diperoleh dalam investasi tersebut tergantung pada jenis instrumen yang dipilih.

Jika memilih instrumen berupa saham maka dapat mengacu pada informasi keuntungan saham yang telah disebutkan sebelumnya.

Namun jika memilih instrumen yang lain seperti obligasi maupun pasar uang, umumnya hanya mendapatkan perolehan dari margin saja.

Beda Saham Dan Reksadana Dalam Hal Resiko Investasi

Terakhir perbedaan yang cukup mencolok antara kedua bentuk investasi yaitu saham dan reksadana terletak pada resiko yang bisa diperoleh.

Secara garis besar investasi saham memiliki resiko yang jauh lebih besar.

Hal ini akibat penjualan saham tidak hanya mendatangkan keuntungan namun beresiko memberikan kerugian.

Jika harga saham menurun saat dijual otomatis pemilik saham akan mendapatkan kerugian.

Berbeda halnya dengan bentuk investasi reksadana yang cenderung lebih aman.

Apalagi berkat adanya peranan manajer investasi yang akan membantu pengelolaan seluruh bentuk instrumen yang ada pada reksadana tersebut.

Sehingga hal ini membantu Anda memilih mana instrumen dalam reksadana yang paling cocok untuk dipilih untuk mengurangi resiko.

Dengan demikian secara umum reksadana memiliki resiko yang lebih rendah dibandingkan dengan saham.

Maka dari itu seorang investor pemula wajib berhati-hati jika ingin berinvestasi pada saham.

Karena tantangannya cukup besar termasuk dalam pengambilan keputusan yang datang dari investor sendiri.

Baca juga: Buka Usaha Setelah Pensiun dari PNS: 13 Usaha yang Prospektif

Itulah beda saham dan reksadana yang sebaiknya diketahui di awal sebelum menentukan jenis investasi yang ingin dipilih.

Sehingga dengan demikian maka bentuk investasi akhirnya sesuai dengan kemampuan, sesuai dengan preferensi, dan memberikan hasil yang baik.

Melalui pertimbangan menyeluruh, hal ini dapat membantu meminimalkan resiko serta kerugian dari pilihan investasi saham ataupun reksadana tersebut.

Maka dari itu sebaiknya jangan gegabah dalam menentukan instrumen investasi Anda.

Terutama jika tujuannya untuk dana tertentu di masa depan.

Melalui pemikiran yang tepat serta pertimbangan yang matang, niscaya Anda akan memilih investasi yang sesuai.

Sehingga memberikan hasil pengembalian investasi yang optimal seperti yang Anda harapkan di awal.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Exit mobile version